Biogas saat ini menjadi salah satu opsi alternatif dalam pengolahan limbah kotoran peternakan. Limbah kotoran yang tidak diolah dan dibiarkan begitu saja menjadi masalah tersendiri dalam dunia peternakan. Penimbunan kotoran ternak di sekitar kandang menyebabkan pencemaran lingkungan. Bau menyengat sudah pasti terjadi, dan akan diperparah ketika musim penghujan datang.
Jika kotoran ikut tergenang air hujan, maka dapat menurunkan mutu lingkungan dan mutu kesehatan bagi masyarakat sekitar peternakan. Situasi semacam inilah yang menyebabkan, secara sosial peternakan dipadang jelek oleh masyarakat pada beberapa daerah.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan pengolahan limbah kotoran agar tidak menjadi masalah dan dibuang sia-sia. Yuk kita bahas lebih dalam terkait BIOGAS sebagai alternatif solusi pengolahan limbah kotoran peternakan.

Definisi Biogas
Biogas adalah gas yang dapat dibakar dan dihasilkan melalui aktivitas anaerobik (tanpa oksigen) didalam digester dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, limbah rumah tangga dan limbah pertanian.
Hendroko (2008) menjelaskan bahwa biogas merupakan suatu campuran gas-gas yang dihasilkan dari suatu proses fermentasi bahan organik oleh bakteri dalam keadaan tanpa oksigen. Komposisi biogas yang dihasilkan adalah gas methana (CH4) sekitar 55-75%, gas karbondioksida (CO2) sekitar 25-45% dan gas lain dengan proporsi kecil.

Gas methana (CH4) sebagai komponen utama biogas merupakan bahan bakar yang baik karena mempunyai nilai kalor yang tinggi, yaitu sekitar 4800 sampai 6700 kkal/m³, sedangkan gas metana murni mengandung energi 8900 Kkal/m³. Karena nilai kalor yang cukup tinggi itulah biogas dapat dipergunakan untuk keperluan penerangan, memasak, menggerakkan mesin dan sebagainya.
Gas methana sudah lama digunakan oleh warga Mesir, China, dan Roma kuno untuk dibakar dan digunakan sebagai penghasil panas. Sedangkan, proses fermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan gas methana ini pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta (1776).
Hasil identifikasi gas yang dapat terbakar ini dilakukan oleh Willam Henry pada tahun (1806) dan dilanjutkan oleh Becham (1868). Pada perkembangan selanjutnya, Louis Pasteur dan Tappeiner berhasil menjelaskan asal sal mikrobiologis dari pembentukan methana pada tahun 1882.
Adapun alat penghasil biogas secara anaerobik pertama dibangun pada tahun 1900. Pada akhir abad ke-19, riset untuk menjadikan gas methana sebagai biogas dilakukan oleh Jerman dan Perancis.
Selama Perang Dunia II, banyak petani di Inggris dan Benua Eropa yang membuat alat penghasil biogas kecil yang digunakan untuk menggerakkan genset pembangkit listrik. Akibat kemudahan dalam memperoleh BBM dan harganya yang murah pada tahun 1950-an, proses pemakaian biogas ini mulai ditinggalkan.

Definisi, Manfaat dan Cara Pembuatan Biogas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.